Selasa, 01 Agustus 2023

Analogi

Sidabukke bukan Parna, *betul*. Mengapa Sidabukke bukan Parna ?, karena Sidabukke suatu marga yang terbentuk akibat kesalahan leluhur mereka. 

Leluhur Sidabukke bernama *Raja Sinalin Napitu melanggar Tona Ni Raja Nai Ambaton memperistri boru Sidabutar*, sehingga Raja Sinalin Napitu diusir dari Kampung halaman bersama istrinya boru Sidabutar. Lahirlah Sidabukke yang dikemudian hari jadi Toga Sidabukke leluhur seluruh marga Sidabukke yang ada. 

Parna adalah Parsadaan Pomparan Raja Nai Ambaton. Kosa kata " _Parsadaan_" sengaja dimasukkan mengingat diantara marga keturunan Raja Nai Ambaton sudah terlanjur ada yang kawin silang. 

Jika hanya menggunakan kalimat  *Pomparan Raja Naimbaton*, secara otomatis seluruh keturunan Raja Nai Ambaton masuk didalamnya. Tapi, dengan adanya kosa kata "Parsadaan", secara empiris setiap marga maupun setiap perorangan yang masuk dalam Parna (Parsadaan Pomparan Raja Nai Ambaton) adalah mereka yang belum melanggar Tona Ni Raja Nai Ambaton. 

Kembali pada topik Barasa bukan Parna. Memang betul, Barasa yang sudah marhulahula Boru dengan Parna secara otomatis bukan Parna lagi. Namun, Barasa yang tidak melanggar Tona Ni Raja Nai Ambaton sejatinya Parna. 

_Barasa yang melanggar Tona Ni Raja Nai Ambaton adalah Pomparan Raja Nai Ambaton_, *tapi tidak masuk Parna*. Demikian juga terhadap siapapun mereka yang melanggar Tona Ni Raja Nai Ambaton, *bukan Parna*. 

*Barasa yang tidak melanggar Tona Ni Raja Nai Ambaton adalah Pomparan Raja Nai Ambaton, sekaligus Parna*.

0 komentar:

Posting Komentar